Kompas.com - 23/12/2021, 16:49 WIB

KOMPAS.com - Gunung Merapi adalah gunung api paling aktif di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa.

Ketinggian Gunung Merapi berubah seiring aktivitas vulkanik yang mempengaruhi bentuk puncaknya. Hingga saat ini Gunung Merapi tercatat memiliki ketinggian puncak 2.930 mdpl pasca erupsi di tahun 2010.

Baca juga: 6 Rekomendasi Wisata di Selo Boyolali, Nikmati Panorama Gunung Merapi

Lokasi Gunung Merapi

Letak Gunung Merapi berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yakni Kabupaten Klaten di sisi tenggara, Kabupaten Magelang di sisi barat serta Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur.

Baca juga: HB X Terima Laporan BIG, Banyak Lahan di Lereng Gunung Merapi Rusak karena Tambang

Pengawasan Gunung Merapi ada di bawah Balai pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di bawah Kementerian Kehutanan.

Baca juga: Dianggap Serius, Kondisi Kubah Lava Gunung Merapi Terus Dipantau

Lokasi yang mudah dijangkau dan pemandangannya yang indah membuat Gunung Merapi menjadi salah satu tujuan pendakian dan wisata yang sangat populer.

Sejarah Letusan Gunung Merapi

Gunung Merapi pernah memiliki puncak tertinggi bernama Puncak Garuda yang runtuh pada tahun 2010.

Jauh sebelum itu catatan membuktikan aktivitas Gunung Merapi sebagai sebuah gunung api muda yang ada di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia.

Melansir dari laman Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sejarah letusan merapi terbagi menjadi empat periode yaitu Pra Merapi, Merapi Tua, Merapi Muda dan Merapi Baru.

Periode Pra Merapi yang dimulai sejak sekitar 700.000 tahun lalu menyisakan jejak Gunung Bibi (2025 m dpl) yang masih terlihat berada di lereng timur laut Gunung Merapi.

Periode Merapi Tua aktivitas Gunung Merapi menyisakan bukit Turgo dan Plawangan yang lokasinya ada di lereng sebelah selatan.

Pada periode Merapi Muda yang terjadi antara 8000 sampai 2000 tahun lalu menyisakan kenampakan bukit Batulawang dan Gajahmungkur yang berada di lereng utara Gunung Merapi serta kawah Pasar Bubar. Di periode ini juga diperkirakan terjadi sebuah letusan besar.

Sementara,periode Merapi Baru, ditandai dengan terbentuknya kerucut puncak Merapi yang disebut sebagai Gunung Anyar pada bekas kawah Pasar Bubar yang dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu.

Setelahnya sejarah letusan Gunung Merapi baru ditemukan tercatat pada masa kolonial Belanda sekitar abad ke-17. Sementara letusan sebelumnya hanya dicatat berdasarkan waktu relatif.

Sejak tahun 1600-an tercatat Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam 4 tahun.

Masa istirahat istirahat terpanjang Gunung Merapi yang pernah tercatat adalah selama 18 tahun yaitu pada abad ke-18 dan abad ke-19. Meski begitu ditemukan pula fakta bahwa masa istirahat berpengaruh kepada indeks letusannya namun lebih tergantung pada sifat kimia magma dan sifat fisika magma.

Adapun sejak tahun 1768 sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan dengan terjadinya letusan besar pada abad ke-19 yaitu tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan serta abad ke-20 yaitu antara tahun 1930-1931 (Newhall, 2000).

Pada erupsi besar pada 14 Juni 2006 yang meluluhlantakkan dusun Kaliadem terjadi perubahan arah letusan ke arah tenggara dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol.

Selanjutnya letusan besar terjadi kembali pada tahun 2010 setelah sebelumnya pada 25 Oktober 2010 status Gunung Merapi ditetapkan 'Awas' (Level IV).

Pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB terjadi letusan eksplosif disertai dengan awan panas dan dentuman yang kembali menelan korban tewas 353 orang termasuk juru kunci Mbah Maridjan.

Gunung Merapi saat ini masih dalam status SIAGA (Level III) sejak ditetapkan pada 5 November 2021.

Karakteristik Letusan Gunung Merapi dan Wedhus Gembel

Dari tipe letusannya, Gunung Merapi dicirikan oleh magma yang naik ke permukaan dan membentuk kubah lava di tengah kawah secara aktif di sekitar puncak.

Munculnya lava ini akan mempengaruhi lava lama yang menutup aliran sehingga terjadi yang disebut dengan guguran lava.

Lava baru akan membentuk kubah yang bisa mencapai ratusan ribu meter kubik per hari dan cenderung tidak stabil.

Apabila kubah lava ini didorong oleh tekanan gas akan menyebabkan sebagian longsor sehingga terjadi awan panas guguran ke arah lembah sungai yang menjadi ancaman bahaya yang utama dan dikenal warga setempat dengan sebutan Wedhus Gembel.

Mitos Gunung Merapi

Dikutip dari Tribun Jogja, ada beberapa mitos tentang Gunung Merapi yang dipercaya oleh masyarakat sekitar.

Salah satunya adalah mitos Mbah Petruk yang muncul tiap kali Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas.

Mbah Petruk seperti memberi peringatan bahaya jika Gunung Merapi akan punya hajat atau sedang 'Nduwe Gawe'.

Menurut cerita rakyat, kemunculan Mbah Petruk akan ditandai dengan suara seperti terompet yang menggambarkan suara dari aktivitas Gunung Merapi.

Menariknya mitos Gunung Merapi yang dipercaya warga tak terlepas dari fakta aktivitas vulkanik di gunung tersebut.

Jalur Pendakian Gunung Merapi

Jalur Pendakian Gunung sempat dibuka namun kembali ditutup melihat aktivitas vulkanik yang meningkat. Jalur pendakian pun ada yang berubah sebagai akibat dari kejadian awan panas guguran maupun banjir lahar.

Ada beberapa jalur pendakian bisa diakses pendaki yaitu Jalur Selo (utara) dan Jalur Babadan (barat) serta Jalur Kinahrejo (selatan).

1. Jalur Selo

Jalur Selo merupakan lintasan terpendek menuju puncak yang dimulai dari Pos Joglo II di atas Desa Plalangan, Kec. Selo, Kab. Boyolali.

Jalur Selo akan melewati Selokopo Ngisor menuju terminal I dan berlanjut ke Selokopo Nduwur.

Dari Selokopo Nduwur, perjalanan akan melewati punggungan lava Gajah Mungkur menuju Pasar Bubar.

Dari sini pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Kawah Mati atau melanjutkan ke sisi puncak Garuda.

2. Jalur Babadan

Mendaki Gunung Merapi dari pos Babadan akan melewati empat hulu sungai dengan medannya berliku.

Pendaki akan melewati Terminal I, Bukit Pahtuk dan bisa berjalan menuju Terminal II, Bukit Kejen.

Dari sana, pendaki akan melewati jalan terjal menuju Gajah Mungkur yang jadi persimpangan jalan jalur pendakian dari arah Selo dan Babadan. Kemudian pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Kawah Mati atau melanjutkan ke sisi puncak Garuda.

3. Jalur Kinahrejo

Sebelum terkena erupsi, Jalur Kinahrejo atau jalur Kaliadem bisa diakses oleh pendaki dari Kota Yogyakarta.Walau begitu jalur ini lebih berat karena medan yang terjal dan sudut lereng yang curam.

Jalur ini kemudian tidak disarankan menyusul aktivitas merapi yang cenderung mengarah ke selatan.

===
Sumber:

https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/542-g-merapi

https://www.tribunnewswiki.com/2019/11/09/gunung-merapi

https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/542-g-merapi?start=1

https://jogja.tribunnews.com/2021/10/27/mitos-gunung-merapi-ini-10-sosok-lelembut-penunggu-kerajaan-merapi?page=all

https://merapi.bgl.esdm.go.id/pub/page.php?idf=12

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 3 Desember 2022: Pagi Berawan, Siang Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 3 Desember 2022: Pagi Berawan, Siang Hujan Ringan

Yogyakarta
Jalan Prambanan-Wonosari Ditargetkan Selesai Tahun 2024, Sultan Sebut Terhubung dengan Tol Yogyakarta-Solo

Jalan Prambanan-Wonosari Ditargetkan Selesai Tahun 2024, Sultan Sebut Terhubung dengan Tol Yogyakarta-Solo

Yogyakarta
Populasi Rentan HIV/AIDS Tambah 500 Persen, KPA Kulon Progo: Paling Banyak di Pekerja Seks dan Laki-laki Suka Laki-laki

Populasi Rentan HIV/AIDS Tambah 500 Persen, KPA Kulon Progo: Paling Banyak di Pekerja Seks dan Laki-laki Suka Laki-laki

Yogyakarta
Terjerat Utang, Bapak dan Anak Kompak Curi Helm hingga 6 Buah Setiap Beraksi

Terjerat Utang, Bapak dan Anak Kompak Curi Helm hingga 6 Buah Setiap Beraksi

Yogyakarta
Aniaya Warga Yogyakarta dan Coba Tarik Kendaraannya, Debt Collector Ditangkap Polisi

Aniaya Warga Yogyakarta dan Coba Tarik Kendaraannya, Debt Collector Ditangkap Polisi

Yogyakarta
'Dulu, 3 Anggota Keluarganya Intens Merawat DDS Selama 3 Bulan di RS, tapi Sekarang Dia Membalasnya dengan Menghabisi Mereka'

"Dulu, 3 Anggota Keluarganya Intens Merawat DDS Selama 3 Bulan di RS, tapi Sekarang Dia Membalasnya dengan Menghabisi Mereka"

Yogyakarta
DDS yang Racuni Orangtua dan Kakaknya Disebut Polisi Punya Kejiwaan Kokoh

DDS yang Racuni Orangtua dan Kakaknya Disebut Polisi Punya Kejiwaan Kokoh

Yogyakarta
DDS Bunuh Keluarganya Belajar dari Kasus Munir, Kopi Sianida Mirna dan Sate Sianida Bantul

DDS Bunuh Keluarganya Belajar dari Kasus Munir, Kopi Sianida Mirna dan Sate Sianida Bantul

Yogyakarta
Siap-siap, Siaran TV Analog di DIY Dimatikan Tengah Malam Nanti

Siap-siap, Siaran TV Analog di DIY Dimatikan Tengah Malam Nanti

Yogyakarta
Diumumkan 7 Desember, UMK Gunungkidul 2023 Sudah Diterima Semua Pihak

Diumumkan 7 Desember, UMK Gunungkidul 2023 Sudah Diterima Semua Pihak

Yogyakarta
Belum Siapkan Kado untuk Kaesang dan Erina, Sultan: Lha Wong Undangane Urung

Belum Siapkan Kado untuk Kaesang dan Erina, Sultan: Lha Wong Undangane Urung

Yogyakarta
Pemerintah DI Yogyakarta Segera Bantu Mahasiswa Asal Cianjur, Sultan: Jangan Sampai Mereka Drop Out

Pemerintah DI Yogyakarta Segera Bantu Mahasiswa Asal Cianjur, Sultan: Jangan Sampai Mereka Drop Out

Yogyakarta
Sultan Apresiasi Siswa SMA dan SMK yang Berikan Bantuan Korban Gempa Cianjur

Sultan Apresiasi Siswa SMA dan SMK yang Berikan Bantuan Korban Gempa Cianjur

Yogyakarta
Masih banyak Diskriminasi kepada Penderita HIV/AIDS

Masih banyak Diskriminasi kepada Penderita HIV/AIDS

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 2 Desember 2022: Pagi Cerah Berawan, Malam Hujan

Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 2 Desember 2022: Pagi Cerah Berawan, Malam Hujan

Yogyakarta
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.