NEWS
Salin Artikel

Sejarah Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945: Awal Mula hingga Kekuasaan Jepang Berakhir di Yogyakarta

KOMPAS.com - Kawasan Kotabaru merupakan salah satu cagar budaya yang menjadi bagian dari wilayah kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Keistimewaan kawasan Kotabaru yang terletak di sebelah timur Kali Code ini tak lepas dari sisi sejarahnya.

Sejarah Kotabaru Yogyakarta terkait erat dengan peristiwa perebutan kekuasaan yang dikenal dengan Pertempuran Kotabaru atau Battle of Kotabaru.

Peralihan Kekuasaan Belanda ke Pasca Masuknya Jepang ke Nusantara

Mulanya kawasan Kotabaru merupakan area yang dibangun Cornelis Cane pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat tinggal orang Eropa.

Hal ini dilakukan saat Belanda memberlakukan politik pintu terbuka atau dalam istilah Belanda disebut “opendeur politiek” yang membuka jalan bagi bangsa Eropa datang dan mengelola perkebunan tebu dan pabrik gula di Yogyakarta.

Namun hal ini berubah seiring dengan melemahnya pengaruh Belanda di nusantara.

Beralihnya kekuasaan Belanda yang jatuh akibat masuknya tentara Jepang berdampak pada penggunaan bangunan di kawasan Kotabaru.

Oleh tentara Jepang, bangunan-bangunan di kawasan Kotabaru dimanfaatkan sebagai perkantoran, perumahan, tangsi dan gudang.

Perubahan fungsi pada bangunan pada saat itu tidak mempengaruhi perubahan fisik bangunan yang ada di kawasan tersebut secara signifikan.

Namun ada satu peristiwa sejarah yang terjadi pada masa kemerdekaan di kawasan tersebut.

Peristiwa Pertempuran Kotabaru pada 7 Oktober 1945

Pergerakan para pemuda pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 memicu meletusnya “Pertempuran Kotabaru” pada tanggal 7 Oktober 1945.

Melansir dari laman Kemendikbud, sejarah Pertempuran Kotabaru dilatarbelakangi usaha R.P. Soedarsono untuk menyerobot kekuasaan Tyokokan.

Bersama dengan pengurus KNI (Komite nasional Indonesia), ia menghadapi serdadu Jepang yang ingin menurunkan bendera merah putih di kantor Tyokokan Kantai yang sekarang menjadi Gedung Negara.

Selanjutnya pada 6 Oktorbe 195 atau sehari sebelumnya, Ketua KNI Moh. Safeh dan pengurus BKR (Badan Keamanan Rakyat) saudara Sundjojo, Umar Djoy dan Sukardi berunding dengan Sihata Tjihanbuto dan Asoka Butaitjo.

Mereka berusaha mengadakan perundingan untuk meminta senjata dari Butai Kotabaru yang berakhir dengan kegagalan.

R.P. Soedarsono kembali mengulangi sekali lagi permintaannya agar Butaitjo Mayor Otzuka rela menyerahkan senjatanya ke pihak Indonesia.

Namun saat perundingan dilakukan ratusan rakyat dan pemuda yang digerakkan oleh KNI, BPU, BKR dan Polisi menuju ke Kotabaru sehingga pertempuran menjadi tak terhindarkan.

Dikutip dari laman Kelurahan Kotabaru, saat itu rakyat menyerang Kidobutai Kotabaru sehingga terjadi pertempuran yang sengit sehingga tentara Jepang kewalahan dan akhirnya menyerah.

Sebanyak 21 orang gugur dari pihak Indonesia dan disemayamkan di Gedung Nasional Yogyakarta sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Para pahlawan yang gugur pada Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 adalah I Dewa Nyoman Oka, Ahmad Jazuli, Supadi, Faridan M. Noto, Bagong Ngadikan, Suroto, Syuhada, Sunaryo, Sajiono, Sabirin, Juwadi, Hadidarsono, Sukartono, Johar Nurhadi, Sareh, Wardhani, Trimo, Akhmad Zakir, Umum Kalipan, Abubakar Ali, dan Atmosukarto.

Sejarah Pertempuran Kotabaru menjadi salah satu peristiwa yang diingat oleh masyarakat Yogyakarta hingga saat ini.

Monumen Penyerbuan Kotabaru

Sebagai salah satu bentuk peringatan sejarah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX meresmikan Monumen Penyerbuan Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1988.

Monumen ini didirikan di kompleks Asrama Korem 040 Pamungkas yang berlokasi di Jalan Wardhani Kotabaru Yogyakarta.

Monumen bentuk persegi dengan warna dasar hitam itu juga memuat prasasti yang berbunyi “Tetenger ini didirikan untuk memperingati puncak pengambil alihan kekuasaan dari pihak Jepang di Yogyakarta dengan serbuan bersenjata dan pertumpahan darah yang dikenal sebagai Pertempuran Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945”.

Sementara pada bagian atas prasasti terdapat simbol perjuangan, yaitu dua buah bambu runcing.

Pembangunan Masjid Syuhada

Untuk menghormati jasa para pahlawan, pada tahun 1950 juga dibangun sebuah masjid di kawasan Kotabaru yang diberi nama Masjid Syuhada.

Nama Masjid Syuhada diambil dari salah satu nama pahlawan yang gugur dalam peristiwa Serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945.

Selain untuk memfasilitasi kebutuhan tempat ibadah bagi warga muslim, pembangunan Masjid

Syuhada yang diresmikan pada 20 September 1952 juga dimaksudkan untuk menghormati pahlawan yang gugur pada peristiwa tersebut.

Sumber:

https://kotabarukel.jogjakota.go.id/detail/index/8690

https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/kawasan-cagar-budaya-kotabaru

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbyogyakarta/beberapa-peristiwa-penting-yang-berkaitan-dengan-perebutan-kekuasaan-di-kotabaru-7-oktober-1945/

https://yogyakarta.kompas.com/read/2021/12/22/173001678/sejarah-pertempuran-kotabaru-7-oktober-1945-awal-mula-hingga-kekuasaan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sigap Atasi Inflasi di Riau, Gubernur Syamsuar Gencarkan Operasi Pasar

Sigap Atasi Inflasi di Riau, Gubernur Syamsuar Gencarkan Operasi Pasar

Regional
Peringati HUT Ke-77 RI, Bupati Blora Berkunjung ke Rumah Veteran dan Purnawirawan

Peringati HUT Ke-77 RI, Bupati Blora Berkunjung ke Rumah Veteran dan Purnawirawan

Regional
Bekerja Sama dengan TP PKK, Pemkab Jembrana Salurkan 15,1 Ton Beras Bansos

Bekerja Sama dengan TP PKK, Pemkab Jembrana Salurkan 15,1 Ton Beras Bansos

Regional
Kasus Covid-19 Naik, Bupati Wonogiri Minta Warga Taati Prokes

Kasus Covid-19 Naik, Bupati Wonogiri Minta Warga Taati Prokes

Regional
Momen HUT Ke-77 RI, Bupati Jekek Ajak Warga Bangun Kembali Harapan yang Hilang

Momen HUT Ke-77 RI, Bupati Jekek Ajak Warga Bangun Kembali Harapan yang Hilang

Regional
HUT Ke-77 RI, Walkot Madiun Minta Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Hal-hal Positif

HUT Ke-77 RI, Walkot Madiun Minta Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Hal-hal Positif

Regional
Pemkot Makassar Ajak Penyandang Disabilitas Rayakan HUT Ke-77 RI

Pemkot Makassar Ajak Penyandang Disabilitas Rayakan HUT Ke-77 RI

Regional
Momen HUT Ke-77 RI, Ganjar Ajak Mantan Napiter Berikan Pemahaman Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

Momen HUT Ke-77 RI, Ganjar Ajak Mantan Napiter Berikan Pemahaman Bahaya Intoleransi dan Radikalisme

Regional
HUT Ke-77 RI, Pemkab Trenggalek Beri Ruang Berekspresi bagi Penari Anak-anak

HUT Ke-77 RI, Pemkab Trenggalek Beri Ruang Berekspresi bagi Penari Anak-anak

Regional
Peringati HUT Ke-77 RI, Desa Wisata Tebing Lingga Siap Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa

Peringati HUT Ke-77 RI, Desa Wisata Tebing Lingga Siap Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa

Regional
Peringati HUT Ke-72 Jateng, Bupati Blora Kenakan Pakaian Adat Sikep Samin

Peringati HUT Ke-72 Jateng, Bupati Blora Kenakan Pakaian Adat Sikep Samin

Regional
Bupati Jekek Minta Gerakan Pramuka Peka Terhadap Persoalan Bangsa dan Penderitaan Sesama

Bupati Jekek Minta Gerakan Pramuka Peka Terhadap Persoalan Bangsa dan Penderitaan Sesama

Regional
Mantan Anggota Khilafatul Muslimin Lampung Ucap Ikrar Setia ke NKRI, Begini Respons Gubernur Arinal

Mantan Anggota Khilafatul Muslimin Lampung Ucap Ikrar Setia ke NKRI, Begini Respons Gubernur Arinal

Regional
Ganjar: Korupsi Merupakan Pengkhianatan terhadap Kerja Wong Cilik

Ganjar: Korupsi Merupakan Pengkhianatan terhadap Kerja Wong Cilik

Regional
Gubernur Sugianto Akan Manfaatkan Optimal Status Kalteng Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Balap Sepeda MTB

Gubernur Sugianto Akan Manfaatkan Optimal Status Kalteng Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Dunia Balap Sepeda MTB

Regional
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.