Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kuliner Warisan Budaya Tak Benda Terancam Punah, Paku Alam X Singgung "Wader Liwet" dan "Growol"

Kompas.com - 28/05/2024, 11:09 WIB
Wisang Seto Pangaribowo,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

 

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 25 jenis kebudayaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapatkan sertifikat warisan budaya tak benda (WBTB) dari Kementerian Pedidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tenologi (Kemendikbudristek). WBTB tersebut meliputi tari-tarian, kuliner, adat istiadat, kerajinan dan lain-lain.

Salah satu WBTB yang menarik perhatian Wakil Gubernur DIY, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X berharap penetapan WBTB ini membuat kebudayaan di DIY semakin lestari. 

Baca juga: Keramas Massal di Sungai Cisadane Diajukan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

"Yo lestari to (agar lestari)," katanya di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Senin (27/5/2024).

Pada kesempatan itu, Paku Alam sempat menyinggung kuliner di DIY yang mendapatkan sertifikat WBTB. Menurutnya, banyak kuliner di DIY yang terancam punah karena bahan dasarnya yang semakin sulit atau peminatnya sedikit. 

Misalnya saja kuliner dari Gunungkidul yakni "Wader Liwet".  Menurutnya kuliner "Wader Liwet" saat ini sudah susah ditemukan. Hal tersebut lantaran bahan dasarnya yakni ikan wader yang semakin sedikit karena banyak diracun. 

"Tadi ada Wader Liwet (mendapatkan sertifikat). Saiki golek wader kepiye wong dipotasi kabeh (sekarang cari ikan bagaimana, kan diracun semua). Kan gimana, padahal sesuatu untuk level njenengan belum pernah kan, taste-nya gimana sih, kan eman-eman (sayang) kita coba untuk lestarikan," katanya.

Selain itu, Paku Alam juga sempat membahas soal "Growol" yakni makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari singkong. Menurutnya, saat ini sedikit masyarakat yang mengkonsumsi "Growol". 

"Saiki sing mangan growol ya wes arang-arang (sekarang yang makan Growol sudah jarang). Kan gitu eman-eman (sayang)," ujarnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lhaksmi Pratiwi proses pengajuan WBTB ke Kemendisbudristek sulit dilakukan. Pasalnya, sistem yang diberlakukan sangat ketat.

Dia mencontohkan salah satu syarat pengajuan WBTB adalah masih adanya dokumentasi, maestro, masyarakat pendukung, dan sudah terbukti dilakukan lebih dari dua generasi atau sudah lebih dari 50 tahun.

"Dari 50 pengajuan Yogyakarta paling hanya dapat separuhnya," kata dia.

Baca juga: Tradisi Ngerebeg, Warisan Budaya Tak Benda Asal Desa Adat Tegallalang

"Pendokumentasian jadi sangat penting, kajian paling sudah karena harus mampu menjelaskan nilai makna filosofi. Kemudian, perlakuan sekarang seperti apa, bagaimana respon masyarakat, dan pemanfaatannya dan apakah masih berlangsung sampai sekarang," kata dia.

Saat ini DIY menjadi daerah terbanyak yang memiliki WBTB yakni sebanyak 180.

"Kita nomor satu di Indonesia, kita enggak lomba banyak-banyakan. Prioritas kami di DIY bagaimana tidak langka dan tidak punah, kata dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Puluhan Wisatawan di Gunungkidul Tersengat Ubur-ubur

Puluhan Wisatawan di Gunungkidul Tersengat Ubur-ubur

Yogyakarta
Diduga Telilit Utang, 1 Warga Magelang Gantung Diri di Teras Rumah

Diduga Telilit Utang, 1 Warga Magelang Gantung Diri di Teras Rumah

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Minggu 23 Juni 2024, dan Besok : Siang Ini Berawan

Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Minggu 23 Juni 2024, dan Besok : Siang Ini Berawan

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca Yogyakarta Hari Ini Minggu 23 Juni 2024, dan Besok : Siang Ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Yogyakarta Hari Ini Minggu 23 Juni 2024, dan Besok : Siang Ini Cerah Berawan

Yogyakarta
Sisa Makanan Jadi Sampah Terbanyak di Yogyakarta

Sisa Makanan Jadi Sampah Terbanyak di Yogyakarta

Yogyakarta
Lansia Penyadap Nira di Kulon Progo Tewas akibat Jatuh dari Pohon Kelapa

Lansia Penyadap Nira di Kulon Progo Tewas akibat Jatuh dari Pohon Kelapa

Yogyakarta
Depo Sampah di Mandala Krida Penuh, Pedagang Keluhkan Omzet Anjlok dan Ganggu Kesehatan

Depo Sampah di Mandala Krida Penuh, Pedagang Keluhkan Omzet Anjlok dan Ganggu Kesehatan

Yogyakarta
Truk Tangki Terguling di Tanjakan, Jalan Raya Kulon Progo Banjir Minyak Jelantah

Truk Tangki Terguling di Tanjakan, Jalan Raya Kulon Progo Banjir Minyak Jelantah

Yogyakarta
Mahasiswa Asal Papua Ditemukan Meninggal di Kamar Kosnya Bantul Yogyakarta

Mahasiswa Asal Papua Ditemukan Meninggal di Kamar Kosnya Bantul Yogyakarta

Yogyakarta
Api Lahap Tanah Kas Desa dan Lahan Warga di Kulon Progo, Penyebab Belum Diketahui

Api Lahap Tanah Kas Desa dan Lahan Warga di Kulon Progo, Penyebab Belum Diketahui

Yogyakarta
Uang Sumbangan Salah Satu MAN di Yogya Dinilai Terlalu Besar, Orangtua Siswa Mengadu ke Ombudsman

Uang Sumbangan Salah Satu MAN di Yogya Dinilai Terlalu Besar, Orangtua Siswa Mengadu ke Ombudsman

Yogyakarta
Musim Kemarau, BPBD Ungkap Daerah Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan di Yogyakarta

Musim Kemarau, BPBD Ungkap Daerah Rawan Kekeringan dan Kebakaran Hutan di Yogyakarta

Yogyakarta
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di DIY, Daerah Mana Saja?

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan di DIY, Daerah Mana Saja?

Yogyakarta
Ledakan di Bantul, Polisi Sudah Periksa 10 Saksi tapi Pemilik Petasan Masih Misteri

Ledakan di Bantul, Polisi Sudah Periksa 10 Saksi tapi Pemilik Petasan Masih Misteri

Yogyakarta
Pemilik Rental Mobil di Yogyakarta 'Blacklist' Penyewa Ber-KTP Pati, Ada yang sejak 2020

Pemilik Rental Mobil di Yogyakarta "Blacklist" Penyewa Ber-KTP Pati, Ada yang sejak 2020

Yogyakarta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com