Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Balon Jatuh di Bandara YIA, Tak Diketahui Asalnya

Kompas.com - 20/04/2024, 23:49 WIB
Dani Julius Zebua,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

KULON PROGO, KOMPAS.comBalon udara ukuran besar jatuh di kawasan Bandar Udara Yogyakarta International Airport (YIA), Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Kapolres Kulon Progo, AKBP Nunuk Setiyowati mengatakan, balon itu ditemukan pada Rabu (17/4/2024) pukul 16.06 WIB. Tim safety YIA langsung mengamankan balon udara saat itu juga.

“Dari hasil monitoring tersebut di dapat informasi balon tersebut jatuh pada area M12 (gridmap) dan sudah diamankan oleh tim Safety Team AP 1,” kata Kapolres Nunuk melalui siaran Humas Polres Kulon Progo, Sabtu (20/4/2024).

Baca juga: Balon Udara Berisi Mercon Teror Warga Magelang dan Klaten, Polda Jateng: Ada Ancaman Penjara

Dia mengatakan pihaknya menelusuri asal balon udara tersebut. Sebanyak 88 personel Bhabinkamtibmas dan polisi jaga warga diterjunkan untuk mencari tahu kegiatan yang berkaitan dengan balon udara tersebut. 

Namun, hingga saat ini tidak ditemukan kegiatan penerbangan balon udara ilegal di seluruh wilayah Kulon Progo. Polisi menduga, balon udara datang dari luar wilayah Kulon Progo.

"Sudah kami cek ke jajaran, nihil penerbangan balon udara dari masyarakat Kulon Progo. Dimungkinkan balon itu bukan dari wilayah Kulon Progo,” kata Kapolres.

Pidana Penjara

Bagi sebagian masyarakat, menerbangkan balon udara merupakan tradisi menyambut Idul Fitri. Namun, penerbangan balon udara kerap menimbulkan sejumlah gangguan, kerusakan dan kebakaran.

Kapolres Nunuk mengungkapkan, penerbangan balon udara juga berpotensi mengganggu penerbangan YIA. Karenanya, penerbangan balon udara mesti ikut aturan. 

"Tetapi demi keselamatan penerbangan di Bandara Internasional Yogyakarta ataupun tempat lainnya, masyarakat dilarang menerbangkan balon udara yang tidak berizin," kata AKBP Nunuk.

Izin itu sejalan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pada Pasal 421 ayat 2 disebutkan: Setiap orang membuat halangan (obstacle), dan / atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan / atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

 

Selain itu, prosedur menerbangkan  balon udara sejatinya telah diatur lewat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018. Di sana tertulis, untuk mengantongi izin maka mesti melalui tahapan dari Pemda, Polres dan Otoritas Bandara, minimal 3 hari sebelum pelaksanaan menerbangkan balon.

Selain itu, diatur pula ukuran balon udara maksimal berdiameter 4 mater, tinggi maksimal 7 meter dengan minimal 3 tali tambatan. Ketinggiannya maksimal ketinggian 150 meter. 

Peraturan itu juga melarang keras balon udara mengunakan api dan bahan peledak. Waktu pelaksanaannya pun sesuai izin otoritas bandara. 

“Hal ini dikarenakan trafik penerbangan di Bandara Internasional Yogyakarta pada saat ini cukup padat,” kata Kapolres Nunuk.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Gibran Janji Kawal Program di Solo Meski Tidak Menjabat Sebagai Wali Kota

Gibran Janji Kawal Program di Solo Meski Tidak Menjabat Sebagai Wali Kota

Yogyakarta
Awal Kemarau, Warga di Gunungkidul Mulai Beli Air Bersih Seharga Rp 170.000

Awal Kemarau, Warga di Gunungkidul Mulai Beli Air Bersih Seharga Rp 170.000

Yogyakarta
Persoalan Sampah di Yogyakarta Ditargetkan Kelar pada Juni 2024, Ini Solusinya...

Persoalan Sampah di Yogyakarta Ditargetkan Kelar pada Juni 2024, Ini Solusinya...

Yogyakarta
PPDB SMP Kota Yogyakarta 2024 Banyak Perubahan, Apa Saja?

PPDB SMP Kota Yogyakarta 2024 Banyak Perubahan, Apa Saja?

Yogyakarta
PPDB DIY, Standar Nilai Jalur Prestasi Diturunkan

PPDB DIY, Standar Nilai Jalur Prestasi Diturunkan

Yogyakarta
Golkar-PKB Koalisi di Pilkada Gunungkidul 2024, Sudah Ada Calon?

Golkar-PKB Koalisi di Pilkada Gunungkidul 2024, Sudah Ada Calon?

Yogyakarta
'Study Tour' Dilarang, GIPI DIY Khawatir Wisatawan Turun jika Pemerintah Tak Tegas

"Study Tour" Dilarang, GIPI DIY Khawatir Wisatawan Turun jika Pemerintah Tak Tegas

Yogyakarta
Jelang Idul Adha, Begini Cara Memilih Sapi Kurban Menurut Pakar UGM

Jelang Idul Adha, Begini Cara Memilih Sapi Kurban Menurut Pakar UGM

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Senin 20 Mei 2024, dan Besok : Cerah Berawan Sepanjang Hari

Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Senin 20 Mei 2024, dan Besok : Cerah Berawan Sepanjang Hari

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca Yogyakarta Hari Ini Senin 20 Mei 2024, dan Besok : Pagi ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Yogyakarta Hari Ini Senin 20 Mei 2024, dan Besok : Pagi ini Cerah Berawan

Yogyakarta
Duka Keluarga Korban Pesawat Jatuh di BSD Serpong: Lebaran Kemarin Tak Sempat Pulang...

Duka Keluarga Korban Pesawat Jatuh di BSD Serpong: Lebaran Kemarin Tak Sempat Pulang...

Yogyakarta
Sejumlah Daerah Larang 'Study Tour', Pemda DIY Yakin Tak Pengaruhi Kunjungan Wisata

Sejumlah Daerah Larang "Study Tour", Pemda DIY Yakin Tak Pengaruhi Kunjungan Wisata

Yogyakarta
Ditemukan Selamat, 2 Nelayan Gunungkidul Disambut Tangis Haru Keluarga

Ditemukan Selamat, 2 Nelayan Gunungkidul Disambut Tangis Haru Keluarga

Yogyakarta
Hilang 2 Hari, Nelayan Ditemukan Terombang-ambing karena Mesin Kapal Rusak

Hilang 2 Hari, Nelayan Ditemukan Terombang-ambing karena Mesin Kapal Rusak

Yogyakarta
Kapal Karam, Nelayan di Gunungkidul Kirim Video kepada Petugas Minta Pertolongan

Kapal Karam, Nelayan di Gunungkidul Kirim Video kepada Petugas Minta Pertolongan

Yogyakarta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com