Gangguan Kesehatan Mental Remaja Naik, Ini Kata Sosiolog Kriminal UGM

Kompas.com - 01/07/2022, 13:44 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan, mental disorder remaja di Indonesia mengalami kenaikan.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menuturkan, berdasarkan riset, gangguan emosi mental peningkatannya terjadi setiap tahun.

"Jika sebelumnya angka remaja yang mengalami mental emotional disorder sebanyak 6,1 persen maka tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 9,8 persen. Ini cukup serius untuk menjadi perhatian kita semua, bagaimana mencapai generasi muda yang unggul untuk masa depan Indonesia,” ujar Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis Humas BKKBN.

Baca juga: BKKBN: Gangguan Mental Emosional Remaja Naik Jadi 9,8 Persen, Angka Perceraian Capai 580 Ribu

Selanjutnya Hasto menyebutkan, perilaku remaja-remaja yang brutal dan mudah terpancing untuk bertindak kriminal, juga akibat dari mental emotional disorder.

"Mohon maaf ini, perilaku 'klitih' di kalangan remaja di Yogyakarta, kemungkinan indikasinya dari mental emotional disorder. Meskipun ini angka peningkatan secara nasional," tuturnya.

Dalam pandangan sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Soeprapto, kenaikan itu berpengaruh kepada tindak kriminal, termasuk aksi kejahatan jalanan.

"Secara umum memang sangat berpengaruh terhadap tindak kriminal, artinya tindakan-tindakan menyimpang dia sampai masuk tindakan kriminal jadi tidak terkendali atau terpacu oleh kondisi psikologi yang tidak terkontrol," ujar dia saat dihubungi, Kamis (30/6/2022).

Soeprapto mengatakan, kecerdasan emosional ada empat tingkatan. Pertama, jika seseorang memahami dirinya. Kedua, jika seseorang mampu mengendalikan dirinya.

Ketiga, jika seseorang tersebut mampu memahami orang lain. Keempat mampu mengendalikan orang lain, misalnya ketika ada orang mau berbuat salah bisa mengingatkan.

Baca juga: Kesehatan Mental Bisa Dipengaruhi Pertemanan hingga Postur Tubuh

"Intinya adalah memang kondisi psikoligis ataupun kondisi emosional seseorang jelas berpengaruh pada kecenderungan untuk berbuat tidak bertanggungjawab," ungkapnya.

Dalam konteks kejahatan jalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang melibatkan remaja, Soeprapto melihat tidak banyak karena faktor kondisi emosionalnya yang bermasalah atau kecerdasan emosionalnya yang rendah.

Namun lebih karena adanya faktor lain. Meskipun, faktor lain tersebut kemudian mempengaruhi emosional.

"Saya lihat sebetulnya bukan karena faktor kecerdasan emosionalnya yang rendah atau kondisi emosionalnya yang bermasalah, tetapi terkadang mereka dibuat melalui minuman keras. Memang lalu emosionalnya diusik, dibuat sehingga orang tidak bisa mengontrol diri. Tetapi intinya memang aspek emosional memengaruhi tindak kejahatan maupun kenakalan," ucapnya.

Soeprapto menuturkan aksi kejahatan jalanan yang melibatkan remaja di Yogyakarta cenderung pada faktor yang dibuat. Bukan karena kondisi emosional keaslian.

Baca juga: Saat Pelecehan Anak di Bintaro Xchange Berakhir Damai karena Pelaku Idap Gangguan Mental...

"Saya bilang pelaku kejahatan jalanan ada yang murni organisasi remaja yang dipengaruhi alumni dari sekolahnya dan ada yang selain ditumpangi alumni, ada juga yang ditumpangi kelompok lain yang lebih besar apakah itu preman dan lain-lain. Nah saya melihat lebih banyak yang di skenario oleh kelompok lain itu," tegasnya.

Tetapi mereka ketika mau merekrut lanjut Soeprapto melihat potensi psikologis dan emosionalnya. Mereka memastikan orang direkrut bisa dengan mudah didokrin.

"Mereka melihat potensi psikologis dan emosionalnya karena mereka paham oh ini bisa digarap, oh ini tidak bisa. Mereka biasanya kan mendokrin dengan alasan menjaga solidaritas, menjaga almamater, nama baik kelompok dan sebagainya," tandasnya.

Menurut Soeprapto lingkungan sangat kuat mempengaruhi kondisi emosional remaja. Termasuk, lingkungan keluarga.

"Jadi perceraian merupakan salah satu yang memengaruhi kualitas anak. Tetapi yang berbahaya itu adalah keluarga yang terlihat harnonis tidak bercerai tetapi ada sikap-sikap yang membuat anak tidak nyaman, misalnya tidak berlaku adil, pilih kasih terhadap anak," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Alasan Bupati Pecat Oknum Dokter di Gunungkidul yang Selingkuh

Ini Alasan Bupati Pecat Oknum Dokter di Gunungkidul yang Selingkuh

Yogyakarta
Bupati Gunungkidul Pecat Oknum Dokter yang Tertangkap Warga Selingkuh

Bupati Gunungkidul Pecat Oknum Dokter yang Tertangkap Warga Selingkuh

Yogyakarta
Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 16 Agustus 2022: Siang Hingga Sore Hujan

Prakiraan Cuaca di Yogyakarta Hari Ini, 16 Agustus 2022: Siang Hingga Sore Hujan

Yogyakarta
“Ilustrasiana Goes to Yogya”, Pameran Karya Seni yang Mengutamakan Kegembiraan

“Ilustrasiana Goes to Yogya”, Pameran Karya Seni yang Mengutamakan Kegembiraan

Yogyakarta
Kerangka Manusia Berusia 4.500 Tahun Ditemukan di Gunungkidul

Kerangka Manusia Berusia 4.500 Tahun Ditemukan di Gunungkidul

Yogyakarta
ORI Sarankan Pembagian Kelas di Sekolah di DIY Berperspektif Kebhinekaan

ORI Sarankan Pembagian Kelas di Sekolah di DIY Berperspektif Kebhinekaan

Yogyakarta
Perbaiki SD Negeri yang Terbakar, Pemkab Sleman Siapkan Anggaran Rp 1,76 Miliar

Perbaiki SD Negeri yang Terbakar, Pemkab Sleman Siapkan Anggaran Rp 1,76 Miliar

Yogyakarta
Jelang 17 Agustus, Hasil Karya Warga Binaan Lapas di Seluruh DIY Dipamerkan

Jelang 17 Agustus, Hasil Karya Warga Binaan Lapas di Seluruh DIY Dipamerkan

Yogyakarta
Perjanjian Giyanti: Latar Belakang, Isi, dan Dampak

Perjanjian Giyanti: Latar Belakang, Isi, dan Dampak

Yogyakarta
Pemda DI Yogyakarta Minta Dugaan Pemaksaan Penggunaan Jilbab Segera Diselesaikan, Sekda: Secepatnya Sudah Ditunggu Masyarakat

Pemda DI Yogyakarta Minta Dugaan Pemaksaan Penggunaan Jilbab Segera Diselesaikan, Sekda: Secepatnya Sudah Ditunggu Masyarakat

Yogyakarta
Pelajar asal Semarang Hilang di Pantai Parangtritis

Pelajar asal Semarang Hilang di Pantai Parangtritis

Yogyakarta
Kasus Suap Apartemen Royal Kedhaton Segera Disidangkan di PN Yogyakarta

Kasus Suap Apartemen Royal Kedhaton Segera Disidangkan di PN Yogyakarta

Yogyakarta
7 Kali Curi Motor yang Terparkir di Sawah, Residivis: untuk Bayar Kos

7 Kali Curi Motor yang Terparkir di Sawah, Residivis: untuk Bayar Kos

Yogyakarta
Lansia yang Tinggal Sendirian Ditemukan Tergeletak Tidak Bernyawa di Pintu Kamar Mandi, Diperkirakan Sudah Tiga Hari Meninggal

Lansia yang Tinggal Sendirian Ditemukan Tergeletak Tidak Bernyawa di Pintu Kamar Mandi, Diperkirakan Sudah Tiga Hari Meninggal

Yogyakarta
ETLE Mobile Berlaku di Gunungkidul, Sebagian Pelanggaran karena Tak Pakai Helm

ETLE Mobile Berlaku di Gunungkidul, Sebagian Pelanggaran karena Tak Pakai Helm

Yogyakarta
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.