13 Tahun Gempa Yogyakarta, Ini Fakta yang Perlu Diketahui

Kompas.com - 27/05/2019, 16:10 WIB
Gedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006. KOMPAS/DAVY SUKAMTAGedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006.

KOMPAS.com - Gempa besar mengguncang kawasan selatan Indonesia pada 27 Mei 2006. Bumi bergetar di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya selama 57 detik dan membuat masyarakat ketakutan.

Gempa menyebabkan banyak bangunan hancur dan isu gelombang tsunami juga muncul. Karena bangunan hancur, listrik seketika padam.

Getaran juga tak hanya di wilayah Yogyakarta saja, melainkan sampai terasa di beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selama 13 tahun sudah bencana tersebut melanda wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ada beberapa fakta yang perlu diketahui, berikut ulasannya:

Korban gempa

Gempa yang terjadi selama 57 detik tersebut ternyata membuat banyak korban berjatuhan. Gempa berjenis tektonik ini seketika membuat ribuan bangunan rusak dan rata dengan tanah.

Bencana yang terjadi kurang lebih pukul 05.55 WIB itu secara umum berada di sekitar selatan-barat daya Yogyakarta. Setidaknya sekitar 5.800 orang tewas dan 20.000 orang mengalami luka-luka, baik luka ringan atau berat.

Bencana ini membuat masyarakat Yogyakarta seketika trauma. Apalagi, muncul isu tsunami dan gunung meletus mengakibatkannya semakin merasa ketakutan.

Setelah gempa tersebut, pemerintah berupaya memulihkan segala kondisi termasuk pemberian bantuan dan evakuasi korban. Tempat-tempat pengungsian juga berdiri untuk membantu korban.

Baca juga: Hari Ini, Peringatan 13 Tahun Peristiwa Gempa Yogyakarta

Kontroversi lima gempa

Ilustrasi gempa.Shutterstock Ilustrasi gempa.
Beberapa ahli berpendapat bahwa muncul kontroversi mengenai pusat gempa Yogyakarta pada 13 tahun silam. Setidaknya ada lima versi pusat gempa dari berbagai lembaga dunia.

Pertama dari United States Geological Survey (USGS) mencatatkan bahwa pusat gempa Yogyakarta 2006 berada pada 7.962°LS, 110.458°BT, tenggara kota Yogyakarta, dekat wilayah Dlingo, Bantul, atau sebelah timur pusat kerusakan gempa.

Menurut USGS, episentrum gempa Yogyakarta berdekatan dengan episentrum beberapa gempa setelah 27 Mei 2006.

Kedua, dari Hardvard CMT menyatakan, pusat gempa Yogyakarta berada pada koordinat 8.03 LS dan 110.54 BT, mendekati wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta.

Hardvard CMT mengatakan bahwa kekuatan gempa magnitudo 6,4 dan pusat gempa berada di kedalaman 21,7 kilometer.

Ketiga dari US National Earthquake Information Center Fast-Moment-Tensor (NEIC-FMT). Menurut NEIC-FMT, pusat gempa Yogyakarta berada pada koordinat 8.007 LS, 110.286 BT, berada di wilayah pantai, berdekatan dengan muara Sungai Opak.

Gempa diperkirakan memiliki kekuatan magnitudo 6,5 dan pusat gempa berada pada kedalaman 28 kilometer, masih masuk gempa dangkal.

Pusat gempa perkiraan NEIC FMT yang sejalur dengan sesar Opak bisa saja benar bila dilihat pusat kerusakan akibat gempa yang berada di sekitar Sungai Opak.

Keempat menurut National Research Institute for Earth Science and Disaster Resilience (NIED). Penelitian NIED menunjukan pusat gempa Yogyakarta berada pada koordinat 7,89 LS, 110,41 BT, nerada di dekat sungai Opak, berdekatan dengan pusat kerusakan gempa akibat gempa.

Kekuatan gempa berkitar magnitudo 6,3 dengan pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.

Kelima, dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan bahwa pusat gempa berada pada koordinat 8.03 LS dan 110,32 BT. Kekuatan gempa diprediksi M 5,9. Pusat gempa berada pada kedalaman 11,7 kilometer.

Pernyataan BMKG jauh berbeda dengan lembaga-lembaga lain. Sebab, dengan koordinat yang diberikan, pusat gempa menurut BMKG berada di wilayah lautan selatan Yogyakarta.

Baca juga: Apa yang Harus Kita Pelajari dari Gempa Yogyakarta?

Kampung Teletubbies tahan gempa

Rumah dome di kampung Teletubbies, Sleman.Tribun Jogja/Hamim Thohari Rumah dome di kampung Teletubbies, Sleman.
Setelah gempa Yogyakarta, masyarakat Yogyakarta mulai berbenah dari keterpurukan karena bencana. Mereka mulai berusaha bangkit agar bisa menjalani kehidupan lebih baik.

Salah satunya adalah dengan membuat rumah tahan gempa. Rumah ini berada di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan dan dijuluki sebagai Kampung Teletubbies.

Perkampungan unik dengan rumah-rumah berbentuk dome atau kubah kini berusia 13 tahun.

Rumah-rumah tersebut dibangun setelah gempa hebat yang terjadi di Yogyakarta pada 2006. Pembangunan dengan mendapatkan dana dari lembaga sosial dari luar negeri untuk menampung penduduk Nglepen yang sebagian besar setelah gempa tidak memiliki rumah.

Di dalamnya ada 80 bangunan yang terdiri dari 71 rumah hunian warga, enam fasilitas MCK, satu masjid, satu aula, dan satu lagi untuk klinik kesehatan.

Setiap rumah hunian berukuran diameter 7 meter dengan tinggi rumah 4,6 meter. Rumah tersebut terdiri dari dua lantai dilengkapi dengan ruang tamu, dua buah kamar, dapur, dan bagian atas yang berlantai kayu dibiarkan tanpa sekat.

Perkampungan ini kini menjadi salah satu desa wisata andalan Sleman dengan dominasi warna putih.

Tugu peringatan

Pada 2016, Pemerintah Kabupaten Bantul membangun tugu peringatan atau tetenger yang berada tak jauh dari pusat gempa di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong.

Pembangunan ini bertujuan untuk mengenang dan meningkatkan kesadaran tanggap bencana bagi warga Yogyakarta umumnya dan warga Bantul pada khususnya karena paling banyak korban yang tewas.

Terdapat satu buah tugu prasasti di tengah dengan bentuk persegi panjang. Tugu ini dibangun dari batu andesit setinggi 1,5 meter yang ditandatangani oleh Kepala BNPB Willem Rampangilei yang saat itu menjabat.

Di samping kanan dan kiri, juga terdapat tiga batu yang ditandatangani oleh Gubernur Sri Sultan Hamengkubuwono X, Bupati Bantul dan Rektor UPN.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

MLTR Mendapat Sambutan Hangat Saat Konser di Semarang

MLTR Mendapat Sambutan Hangat Saat Konser di Semarang

Regional
Fakta Lengkap Banjir dan Longsor di Agam, Diduga karena Pembalakan Liar hingga Tetapkan Status Tanggap Darurat

Fakta Lengkap Banjir dan Longsor di Agam, Diduga karena Pembalakan Liar hingga Tetapkan Status Tanggap Darurat

Regional
[POPULER NUSANTARA] Respon Wishnutama soal Bali Tak Layak Dikunjungi | Driver Ojek Online Minta Maaf

[POPULER NUSANTARA] Respon Wishnutama soal Bali Tak Layak Dikunjungi | Driver Ojek Online Minta Maaf

Regional
Fakta Bali Disarankan Tak Dikunjungi Pada 2020, Tanggapan Pemerintah hingga Akan Kumpulkan Pelaku Pariwisata

Fakta Bali Disarankan Tak Dikunjungi Pada 2020, Tanggapan Pemerintah hingga Akan Kumpulkan Pelaku Pariwisata

Regional
Angin Puting Beliung di Enrekang, 6 Rumah Rusak, 1 Nyaris Roboh

Angin Puting Beliung di Enrekang, 6 Rumah Rusak, 1 Nyaris Roboh

Regional
Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Regional
Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Regional
Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Regional
Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Regional
Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Regional
Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Regional
Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Regional
Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Regional
Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Regional
Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X