Salin Artikel

Cerita Warga Merawat Batu Diduga Yoni, Mau Ditawar sampai 3 Kali Tidak Dijual

Secara turun-temurun, warga merawat dengan kearifan lokal setempat, meski arca dan lingganya sudah hilang dicuri puluhan tahun silam.

Berada di sebuah ladang milik Warijan yang ditanami kedelai, di belakang pabrik kecil peleburan baru putih ada sebuah gundukan tanah setinggi lebih kurang 1 meter.

Di atas gundukan tanah terdapat sedikitnya tiga jenis pohon, yaitu asam, jambu biji, dan sirsak. Tepat di sebelah timur gundukan ada sebuah batu mirip yoni.

Lingga-yoni merupakan salah satu benda ritual agama Hindu. Namun, di sana tinggal batu yang diduga yoni saja dan beberapa lempeng batu putih.

Yoni menghadap ke arah timur, dan beberapa hari lalu dibuatkan dudukan yang terbuat dari hebel oleh warga sekitar.

Bentuknya kotak, di tengahnya ada lubang berbentuk persegi, di dasar ada lubang ke arah barat.

"Sudah lama di sini, (menurut informasi turun-temurun) ditemukan sekitar tahun 1945," kata salah seorang warga, Sukirno (65), saat ditemui di lokasi, Rabu (27/7/2022).

Dia mengatakan, saat itu masih ada lingga warga di sana menyebut sebagai alu atau mirip penumbuk padi, dan sebuah arca perempuan dari batu putih namun tertimbun tanah. Sampai sekitar medio 1974, warga melihat bekas galian arca dan lingga sudah hilang.

Sebenarnya di sekitar lokasi ada permukiman warga, tetapi pada 1962 ditinggalkan karena dari cerita warga sering muncul ular, dan akhirnya dibakar sebelum ditinggalkan.

Sebelumnya, di sekitar lokasi juga ada batuan berbentuk persegi panjang sekitar enam buah, dan beberapa lempeng batu lainnya. Namun, semuanya sudah hilang.

Warga termasuk dirinya menjaga benda yang diduga yoni. "Dulu pernah ada yang tiga kali datang untuk menawar batu ini (bentuk yoni), namun saya tidak boleh. Saya bukan juru kunci, tetapi ikut jaga," kata Sukirno.

"Mau saya lestarikan, dipindah ke lokasi lain saya juga tidak boleh," kata dia.

Hingga pada akhirnya Sukirno menggali dan mulai menaikkan batu tersebut ke permukaan tanah, tepatnya di bawah pohon jambu dan pohon sirsak.

"Awalnya terkubur dan ini (batu mirip yoni) saya naikkan lima tahun lalu," ujarnya.

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah agar batu itu tidak hilang atau rusak karena dirinya meyakini batu mirip yoni itu peninggalan masa lalu.

Sebab, menurut Sukirno, beberapa tahun lalu pernah dijanjikan beberapa instansi membantu memperbaiki lokasi, tetapi hingga kini tidak ada kejelasan.

"Hari ini katanya mau ada yang datang dari dinas kebudayaan (Kundho Kabudayan). Semoga ada realisasi," kata dia.

Kepala Kundho Kabudayan Agus Mantara membenarkan hari ini, timnya datang ke lokasi untuk memastikan benda itu berasal dari tahun berapa.

"Hari ini tim ke sana, nanti kita lihat hasilnya seperti apa. Jika masuk obyek diduga cagar budaya (ODCB) nanti ditindaklanjuti dengan kajian," kata dia.

Nanti akan dilakukan kajian merunut sejarah dari lokasi, dan kajian lebih mendetail dilakukan sidang untuk memutuskan ODCB atau bukan.

"Setelah dikaji nanti akan dilakukan tindak lanjut terkait yoni itu," kata Agus.

https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/07/27/144333378/cerita-warga-merawat-batu-diduga-yoni-mau-ditawar-sampai-3-kali-tidak

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke