Salin Artikel

Plengkung Wijilan, Gerbang di Kawasan Keraton Yogyakarta yang Identik dengan Kuliner Gudeg

KOMPAS.com - Plengkung Wijilan adalah salah satu gerbang yang kerap dilewati wisatawan ketika berkunjung ke kawasan Keraton Yogyakarta.

Bentuk lengkung Plengkung Wijilan sangat khas dan bisa dilewati kendaraan berukuran sedang dari satu arah.

Berbeda dari Plengkung Gading, Plengkung Wijilan tidak memiliki tangga dari bawah yang bisa digunakan untuk menuju ke atas plengkung.

Menjadi salah satu bangunan bersejarah di Yogyakarta,berikut adalah beberapa fakta yang bisa disimak mengenai Plengkung Wijilan yang ada di timur Alun-alun Utara.

1. Salah satu gerbang di kawasan Keraton Yogyakarta

Kawasan Keraton Yogyakarta dikelilingi tembok Baluwarti, atau lebih sering disebut sebagai beteng.

Tembok Baluwarti melingkupi kawasan tempat tinggal kerabat Sultan dan pemukiman Abdi Dalem, atau yang dikenal sebagai kawasan Jeron Beteng.

Plengkung Tarunasura atau Plengkung wijilan adalah salah satu gerbang masuk ke dalam kawasan ini.

Lokasinya memang tak jauh dari Alun-alun Utara, dan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Awalnya tak sembarang orang dapat melintas, namun kini wisatawan bisa leluasa melewati Plengkung Wijilan.

2. Dulunya tidak dibuka 24 jam

Seperti diketahui, tembok Baluwarti ini mulanya berfungsi sebagai tembok pertahanan yang mengelilingi kawasan Keraton Yogyakarta.

Hal ini membuat ada aturan khusus bagi masyarakat yang hendak melintasi tiap plengkung pada masa penjajahan.

Konon plengkung-plengkung ini dulunya hanya dibuka dari jam enam pagi sampai enam sore dan kemudian dilonggarkan menjadi dari jam lima pagi sampai jam delapan malam.

Waktu membuka dan menutup gerbang plengkung ini ditandai dengan bunyi genderang dan terompet dari prajurit di Kemagangan.

Plengkung Wijilan yang merupakan satu dari lima gerbang dengan pintu melengkung yang masih terjaga bentuk aslinya.

Bentuk plengkung ini terlihat masih asli dan terawat meski dilewati berbagai kendaraan setiap hari.

Pada tahun 2018 Dinas Kebudayaan DIY melakukan kegiatan rehabilitasi dinding benteng kraton Yogyakarta, termasuk Plengkung Wijilan.

Pada saat pekerjaan rehabilitasi pada bagian lorong di Plengkung Wijilan, lalu lintas yang melewati lorong plengkung tersebut harus dialihkan lewat jalan lain.

Yogyakarta memang dikenal sebagai Kota gudeg, begitu juga dengan kawasan Plengkung Wijilan.

Diketahui kawasan Wijilan dikenal sebagai sentra penjualan gudeg, selain Kampung Mbarek yang berlokasi di dekat kampus UGM.

Sentra gudeg Wijilan menjadi populer karena hanya berjarak 50 meter dari Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Konon Ibu Slamet adalah sosok yang mengawali berjualan gudeg di Wijilan pada 1946, dan masih bertahan dengan citarasa yang otentik.

Sumber: kratonjogja.id dan bptba.lipi.go.id

https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/06/22/150859878/plengkung-wijilan-gerbang-di-kawasan-keraton-yogyakarta-yang-identik

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke