Salin Artikel

Cerita Giri, Difabel Netra Peraih Sarjana Ekonomi di UGM, Kehilangan Penglihatan di Semester Dua

Giri, seorang difabel netra, mampu membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk menorehkan prestasi.

Giri merupakan putra pertama. Ia dan keluarga tinggal di daerah Mantrijeron, Yogyakarta. Kedua orangtuanya sehari-hari berjualan soto di daerah Tamanan, Bantul.

Sebelumnya sang ayah sempat memiliki usaha event organizer. Namun, karena sakit diabetes dan jantung koroner, sang ayah berhenti menjalankan usaha tersebut dan memilih membantu sang istri berjualan soto.

Sedangkan sang adik saat ini menempuh pendidikan sarjana masuk semester empat di salah satu perguruan tinggi swasta Yogyakarta.

Giri kini resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE).

Pria asal Yogyakarta itu telah mengikuti wisuda periode kedua Tahun Akademik 2021/2022 yang diselenggarakan UGM, Rabu (23/2/2022).

Dia berhasil mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IP) 3,43 atau sangat memuaskan dari prodi Manajemen Fakultas Ekonomik dan Bisnis.

“Saya berusaha untuk menunjukkan pada semua orang, meski penyandang disabilitas, tapi bisa berprestasi, yaitu dengan kembali kuliah,” jelasnya, Kamis (24/2/2022).

Padahal, pada saat itu, dia sudah duduk di bangku kuliah.

Giri lahir dengan penglihatan normal. Namun, ia dinyatakan tidak bisa melihat sejak 7 tahun lalu.

“Saat masuk UGM masih bisa melihat, hingga semester dua Allah mengambil pengelihatan saya secara total. Seolah runtuh semua cita-cita, hilang semua harapan, seperti tak mungkin lagi menjadi apa-apa,” paparnya.

Fungsi penglihatan Giri menurun saat mengikuti perkuliahan di kelas.

Tanpa merasa sakit secara tiba-tiba ia mulai tidak bisa melihat lagi. Semua samar. Wajah teman dan yang dilihatnya hanya berwarna putih.

Kondisi seperti itu yang membuatnya harus menjalani perawatan di RSUP dr Sardjito sekitar 4 bulan dengan diagnosa ada peradangan pada saraf mata dengan penyebab yang masih belum bisa diketahui.

“Waktu itu kan rawat inap pertama sekitar 10 hari lalu pulang ke rumah, itu masih masa-masa ujian akhir semester (UAS). Saya nekat ngampus untuk UAS, tapi sampai kelas nangis karena tidak bisa membaca dan nulis akhirnya pulang dijemput bapak,” ungkapnya.

Kebingungan pun melanda Giri. Bagaimana ia menjalani perkuliahan dengan kondisi tidak bisa melihat? Bagaimana jika cita-citanya untuk menjadi orang sukses yang sejak dulu diidam-idamkan kini tak bisa lagi tercapai lantaran ia tak bisa melihat?

Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk di hatinya. Untuk menenangkan diri, dia memutuskan untuk mengambil cuti kuliah selama lima semester.

Selama masa cuti tersebut, ia menjalani terapi di berbagai tempat, tapi hasilnya tetap nihil. Penglihatannya semakin memburuk hingga semua hitam dan gelap.

Namun, hal tersebut tak membuat ia menyerah dengan keterbatasan. Ia mulai berpikir bahwa keterbatasan tidak boleh menjadi batu sandungan untuknya melangkah lebih jauh.

Usahanya tidak sia-sia. Dia menjadi wakil wisudawan untuk memberikan kata sambutan di hadapan seluruh wisudawan dan pimpinan universitas.

“Ini juga karena keterbukaan UGM melayani pendidikan yang inklusif. Dari situ, saya bisa berada di wisuda ini bersama teman-teman,” papar Giri.

Giri mulai masuk kuliah di tahun 2018. Kecemasan yang menggelayut di benaknya tak semata-mata hilang.

Dia tetap bertanya, apakah dirinya bisa mengikuti perkuliahan? Apalagi, ia sudah tertinggal lima semester dari teman-temannya.

Pertama kali masuk kuliah, Giri harus berada di kelas yang sama dengan adik kelasnya.

Ia juga memikirkan akses perkuliahan setelah dirinya tidak bisa lagi melihat. Salah satu solusi yang ia lakukan adalah mengomunikasikan tantangan yang dihadapi dan kebutuhan selama proses belajar-mengajar.

"Saat masuk itu kepedulian terhadap disabilitas belum seperti saat ini, tetapi dengan usaha dan komunikasi yang baik bisa terbentuk suasa inklusif bagi disabilitas," kata dia

Giri mengungkapkan, sebelum mulai mengikuti perkuliahan, ia dipanggil dalam sebuah pertemuan yang dihadiri Kaprodi, Kadep, dan Wadek Bidang Akademik.

"Waktu itu pihak kampus bertanya kebutuhannya apa dan solusi seperti apa yang tepat menurut Giri. Ini bagus karena disabilitas dilibatkan dan diberdayakan untuk mencari solusi," ucapnya.

Para dosen pun diarahkan dalam membuat materi pembelajaran bisa diakses oleh semua mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.

Selain itu, ada fasilitasi asisten dosen untuk membantu Giri dalam menjalankan kegiatan pembelajaran. Selanjutnya memberikan tutorial untuk beberapa mata kuliah kuantatif.

Pandemi Covid-19 menutut perkuliahan dilakukan secara daring menjadi tantangan baru baginya.

Sebab, masih ada beberapa dosen yang menggunakan platform yang kurang bisa diakses oleh penyandang disabilitas.

"Saat kuliah daring cukup kesulitan karena banyak yang harus dilakukan secara mandiri, tapi lagi-lagi dengan komunikasi, semua bisa berjalan baik. Untuk mata kuliah yang kuantitatif ada fasilitasi asisten dosen yang datang ke rumah," sebutnya.

Menurut dia, UGM merupakan kampus yang ramah bagi penyandang disabilitas. Maka, ia berharap ke depan UGM bisa terus mengembangkan pendidikan dan lingkungan yang semakin inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Giri Trisno Putra, Penyandang Disabilitas Netra Peraih Sarjana Ekonomi di UGM

https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/03/03/103700778/cerita-giri-difabel-netra-peraih-sarjana-ekonomi-di-ugm-kehilangan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke